Senin, 26 Januari 2009

Helmku yang malang & polisi yang kebangetan….

Sungguh menggelikan kejadian 9 tahun yang lalu itu, hari pertamaku masuk kerja di perusahaan multi nasional aku parkirkan motor ditempat parkir gedung di bilangan jalan Thamrin, namun saat waktunya pulang ternyata helm pelindung kepalaku hilang. Ha-3…. hari pertama kerja yang menyenangkan, aku paksakan berkendara tanpa helm, ku niatkan untuk membeli helm yang biasa dijual dipinggir jalan, dengan penuh kehati-hatian sambil berjalan ditepi jalan (batas jalan aspal & tanah). Alhamdulillah kurang dari 20 meter tampak dengan jelas olehku penjual helm.”Berhenti” tiba-tiba terdengar ucapan seorang berpakaian seragam diatas motornya memotong jalan motorku, aku benar-2 kaget dibuatnya, secepat copet tanah abang dia cabut kunci motorku, spontan aku bertanya ”ada apa pak ?”. “Anda melanggar” jawabnya. “Anda tidak pakai helm”. Belum sempat ku bantah dia langsung meminta sim & stnk ku dan mengajakku ke POS polisi saksi bisu yang akan banyak bercerita kisah-kisah pungli di hari akhir kelak.

Wah.....pucuk cinta wulan pun tiba, Allah memang sesuai dengan prasangka hambaNya, Allah tahu benar kegemaranku ngerjain Polisi yang sebagian besar berusaha menghianati negaranya.

Dengan wajah inocent yang kubuat-buat, kuikuti perintahnya, aku berjalalan dibelakangnya sampai akhirnya aku duduk tepat didepan wajahnya yang siap mengintrogasiku.

”Tahu kesalahan saudara ?” tanyanya. ”Tidak pak ”jawabku. ”Loo anda itu naik motor tidak pakai helm”, katanya. Kujawab dg santai ”Pak...mohon maaf, helm saya baru saja dicuri orang, saya tahu fungsinya helm, kalaupun saya pakai helm bukan karna peraturan atau karna takut pada bapak, bapak lihat tidak, saya tadi berjalan disebelah mana?”. ”sudah gak usah banyak bicara yang jelas anda melanggar” sanggahnya. Maaf pak saya tidak merasa bersalah karena saya tadi jalan dipinggir jalan & bukannya tadi bapak lihat didepan saya ada pedagang helm dan saya akan membeli helm disana. ”Sudahlah anda saya tilang atau anda bayar 20 ribu” katanya. Hemm....”kena kau”, hatiku bergumam, ”Maaf ya pak....dari pada buat bapak mending buat beli helm” jawabku mengejek. Semakin menikmati episode ini, kutambah lagi ”asal tau aja ya pak, selama ini saya sebagai masyarakat tidak pernah merasa terayomi oleh polisi seperti bapak”. Dengan malu dan kesal ia jawab ”dasar mahasiswa debat melulu”. Ha-3.....berbungan-bunga juga hatiku dibilang mahasiswa, tapi maaf saja, pujian itu tidak akan membuat aku terpedaya. ”Ya sudah ditilang saja” katanya lagi menambahkan, ”silangkan Pak ditilang saja paling tidak saya tau bapak polisi macam apa” jawabku dengan mantabnya. Berselang beberapa menit kemudian kubawa surat tilang kerumah dengan senangnya, smoga Allah memberi hikmah kepadaku & polisi itu atas episode yang Allah tetapkan hari itu.

Semoga Allah memberi hidayah kepadnya agar tidak lagi mendzolimi rakyatnya & tidak menghianati bangsanya. Semoga Allah juga memberi hidayah kepadaku agar tidak terus punya keinginan kerjain polisi....... Amin ya Robbana......

Jumat, 25 April 2008

Polisi : “Ditilang Dek ?”

Walau sudah 12 tahun yang lalu, ingin rasanya kutulis kejadian itu. Tepatnya dijalan Sudirman dekat lampu merah aku salah jalan, ternyata motor dilarang lewat jalur itu, priiiiitttttt seketika aku terkejut karena priwitan polisi yang nyaris tertelan itu ditujukan padaku. ”Selamat siang mas”, seraya hormat dan mencabut kunci motorku.

Dengan santai sesuai pintanya kudorong motorku merapat keposko tawar menawar di sudut jalan itu. Ironisnya yang selalu terpikir olehku adalah saat-saat sepert itu memang sesuatu yang sangat mengasikkan bagiku, maklumlah sudah cerita kuno kalau pak polisi akan ngajak damai, tawar menawar, sepakat lalu tancap gas........

”Anda melanggar mas, motor tidak boleh lewat jalur ini” katanya, aku sudah siap beraksi, ”Oo.. bgitu ya pak, jadi harusnya lewat mana ya pak” jawabku dengan sopan. Lalu dengan berlaga ramahnya sang ”pelayan masyarakat itu” mengatakan ”lain kali anda lewat jalur ini, lalu jalur itu”. ”Oo begitu ya pak, terima kasih pak lain kali saya akan lewat situ” jawabku dengan mimik muka innocent.

Sambil liat-liat kesekitar bundaran dengan patung yang mesti akan dibongkar Nabi Ibrahim bila ada pada zamannya, aku menunggu dan yakin polisi itu akan memulai aksinya. Tiba-tiba ” Ditilang dek?” tanyanya polos, ”Iya pak silahkan” jawabku santai. Lalu polisi itu menjauh sekitar 8 meter selama 5 menit entah apa yang dilakukannya. Berikutnya , ”Ditilang saja dek ?” dia coba bertanya lagi, ” Oo..iya pak silahkan” , jawabku menggoda.

Ia mulai menghianati negera ini. Rupanya polisi yang tak kuingat pangkatnya itu kurang mendapat pelajaran teknik ”punglingisasi” yang baik, pertanyaan yang sama dan menjauh lagi dengan jarak & waktu yang nyaris sama. Aku yakin sesaat lagi aku berhasil ngerjain tikus kecil kota yang kotor tapi berlaga bersih ini, semakin kunikmati setiap episodenya. Dasar gak kreatif, dia kembali kepadaku ”Jadi bener ditilang nih dek ?” tanyanya lagi tidak sopan, dia pikir aku manusia dungu yang tidak mengerti bahasa manusi atau memang tampangku yang keliatan dungu, bisa jadi. Agar tidak keliatan dungu spontan kujawab ”Memang bisa gak ditilang ya pak?” jadi dungu beneran. Tak kalah spontan dia menjawab ”Ya gak bisa...., harus ditilang”. Dia sedang menunjukkan kedunguan sejatinya. Bagai bola pimpong yang dimainkan team Jepang, langsung pula kujawab. ” Ya sudah to pak ditilang saja, kenapa pake tanya” dengan sedikit menunjukkan kewibawaan & kepuasan atas kemenangan satu episode yang aku yakin sudah tertulis di Lauhmahfuz ini.

Dengan mimik muka kejengkelan diserahkan juga surat tilang itu kepadaku dan lagi-lagi kuterima dengan baik dan penuh senyuman serta isyarat paras muka yang mewakili isi hatiku ”Jangan anggap semua orang sama dengan mu pak”. Dan tepat waktunya aku bersidang di pengadilan Jakarta Selatan untuk mengambil SIM-ku. Semoga Allah memberi hidayah kepadanya dan mengampuni segala kesalahannya. Amin......

Jumat, 18 April 2008

HP jadul sang pejabat tinggi

Tepatnya bulan ramadhon tahun lalu, kejadian itu sangat berkesan dalam hidupku. Memasuki 10 hari terakhir ramadhon seperti biasanya aku melakukan i’tikaf, kala itu ba’da ashar saat ku coba menghatamkan Al-Qur’an hp-ku berdering, kulihat jelas dalam layar initial HNW, Subahanllah, aku tersentak, apa gerangan yang membuat seorang ketua MPR menghubungiku seraya kuangkat. ”Assalamu’alaikum wr.wb, afwan akhi, antum sedang i’tikaf ?”, suara yang kudengar dari dari HP-ku, dengan penuh hormat kujawab ”iya ustad insya Allah”, ”Mengganggu gak kalau antum keluar sebentar untuk menemani saya ketemu Wapres (Wakil Presiden RI) malam ini skitar jam 20.30” lanjut orang yg bersahaja dan banyak disegani orang itu. Dengan bersegera kujawab insya Allah ustad, karena aku tahu betul bahwa bertemu dengan Wapres saat itu juga bagian dari perjuangan dakwah yang tidak kalah pentingnya dengan i’tikaf.

Kusiapkan betul apapun untuk pertemuan malam itu agar tidak mengecewakan orang yang aku hormati, sengaja aku berangkat ba’da magrib dan sholat isya dijalan agar tidak terlambat datang kerumah beliau, karena kami akan berngkat bersama satu mobil dari rumah beliau.

Saat itu tepat jam 20.00 kami sudah masuk ke rumah Wapres, karena sudah ada janji dan yang datang juga setingkat pejabat tinggi negeri ini kecuali diriku, para ajudan dan pelayan disana sudah bersiaga menyambut kedatangan kami. Apalagi secara struktur kepemimpinan dinegeri ini Wapres harus melaporkan pertanggungjawabannya kepada beliau. Kesan sederhana & bersahajapun terasa dirumah dinas Wapres itu, entah ada hal yang kurasakan berbeda, kucoba menerawang setiap sudut ruang, oo..akhirnya kutemukan satu hal yang bisa jadi membuat suasana berbeda, ketika kulihat dalam subuah bingkai foto yang juga biasa-biasa saja foto sang ibu Wapres yang mengenakan jilbab cukup tertutup & rapi. Ah...mungkin karena aku terbiasa ada didalam komunitas sperti itu pikirku. Tapi apapun senang rasanya punya Wapres yang memiliki istri sholehah.

Kami diterima oleh Wapres sangat hangat saat itu. Tidak tersasa obrolan kami bertiga sudah lebih dari 1,5 jam, maklumlah kalau pejabat tinggi bertemu mesti ada saja yang mereka bicarakan dari persoalan rakyat, pembangunan daerah tertinggal dan lainnya. Yang tidak kalah serunya adalah pembahasan klasik umat islam mengenai penetatapan jatuhnya tanggal 1 syawal, repot juga ya ternyata jadi pejabat, pantas kalau Allah tidak membebaniku dengan jabatan itu karena mesti aku tidak akan sanggup memikulnya.

Menjelang pamit, kami sempat menyampaikan bahwa kami sedang membangun kembali masjid yang sebelumnnya terkena gempa di sekitar Klaten, Jawa Tengah, beliau menawarkan Wapres untuk beramal jariyah melalui masjid tersebut, tanpa pikir panjang sang Wapres menyambutnya dan langsung meminta nomor rekening yayasan pengurus masjid tersebut. Perlahan beliau mengeluarkan HP kecilnya ”Afwan akh tolong antum catatkan ya, nomornya ada di sini” sambil menyerahkannya kepadaku untuk mencatatkan no rekening yang ada dalam HP tersebut. Dengan full respon kuambil dan segera mencatatnya, namun Masya Allah aku terkejut memegang HP seorang pejabat tinggi yang sedang bertemu Wapres itu, kalau saja bentuk HP itu aku tidak familier mesti aku tidak akan tau apa mereknya, warnanya yang pudar, grepes-grepes dan yang tidak kalah membuat aku bingung adalah ketika ingin kutelusuri catatan no rekengng tersebut aku kesulitan menggunakannya karna angka & tanda pada tombolnya sudah tidak terlihat. Hasrat hati ingin bertanya bagaimana membukanya karna kuyakin beliau sudah hafal tombolnya walau tidak terlihat karena mungkin sudah menggunakannya bertahun-tahun. Karena malu pada diriku sendiri, apalagi kalu ingat HP-ku yang sok borju, lalu kuniatkan untuk trial & erorr tombol-tombol tersebut & alhamdulillah akhirnya aku mampu menaklukkannya, kudapat no rekening itu dan kucatat. Sebelum kukembalikan sempat kuperhatikan & kupikirkan kembali HP kecil seorang pejabat tinggi itu. Subbhanallah ketika keimanan tertancap didada maka harta dan kemewahan dunia tidak akan mampu menguasainya. Sebenarnya banyak pengalaman ku dan teman-2 yang sangat berkesan dengan beliau, tapi pengalaman kali ini sangat berkesan buatku dan mampu mere-charge motivasiku yang hampir turun saat bejuang bertahan istiqomah dalam i’tikafku di tahun ini.

Semoga Allah selalu menjaga dan tidak membiarkan beliau mengurus rakyat & negeri ini sendiri, karna hanya dibawah pengurusan Allah SWT sajalah beliau akan mampu dan selamat dalam mengurus segala urusan dinegeri ini.

Jumat, 07 September 2007

Dengan syariah, ternyata Allah buat semua jadi mudah...

Seringkah kita mendengar

“Bank konvensional itu masih halal, karena kondisinya darurat”
“Masa pake bank syariah malah lebih mahal, kitakan bisnis tentu cari yang murah dong”
“Sama aja bank konvensional atau bank syariah cuma beda di akad, itumah akal-akalan bank aja biar laku”..padahal yang bedain kita berhubungan dengan istri yang halal atau dengan PSK di AKAD-nya ya….he..he..he…..


Banyak sekali pertimbangan kita untuk tidak pake bank syariah, yang ternyata ujung-ujungnya biasanya gak mau susah atau berkorban buat kemajuan islam dalam pemberlakuan syariah………

Setelah sekian waktu berbisnis alhamdulillah selama ada yang system syariah kami coba untuk menggunakannya walaupun, lama, mahal atau syaratnya banyak, kalo gak gitu sapa lagi ya yang mau membantu berkembangnya perbankkan atau ekonomi syariah kalo bukan kita-kita…..bukan bermaksud ngajarin ya……

Dan dasyatnya subhanallah banget…….., pernah kita punya pengalaman cari dana sampe dengan 4 Milyar untuk satu proyek yang nilainya skitar 28 Milyar, kita berusaha keras untuk cari investor baik bank syariah maupun perorangan berbulan-bulan, tau gak friends ternyata Allah berikan jalan keluar yang lain yang sama sekali tidak terduga & gak kepikir sama sekali sebelumnya, si owner (pemilik proyek) dapat pembiayaan dari bank pemerintah dan syaratnya dana dari bank tersebut harus dicairkan melalui kita sebagai kontraktor, alhasil yang tadinya kita cari dana tambahan buat cash flow proyek….eh proyek itu bisa jalan cukup dengan dana yang lewat kita. Terbukti ya ktika kita coba bertawakal pada Allah maka Allah akan berikan dari tempat yang tidak diduga-duga….Allahu akbar.

Alhamdulillah sudah beberapa akad dengan pola syariah kita lakukan dalam beberapa kerjasama pembiayaan baik lewat bank syariah maupun investor perorangan, kalo para sahabat ingin memanfaatkannya bisa down load skema kerjasama & draft kontrak dengan investor perorangannya lewat http://www.pilar-corporation.com/

Tapi masih banyak kekurangnya baik isi maupun aplikasi….yah paling tidak kita ikhtiar terus untuk menggunakan pola syariah, jadi kasih inputan ya….biar menjadi lebih baik. Semoga bermanfaat...

Catatan Seorang Sahabat

Pernahkah saudara mendengar sebuah hadits bagaimana cara Rosululllah menjawab bujukan Pamannya Abu Thalib untuk berhenti berdakwah.
Rasulullah dengan penuh percaya diri dan teguh pendirian menjawab : “Wahai Pamanku, demi Allah, sekiranya mereka mampu meletakkan matahari ditangan kananku dan rembulan ditangan kiriku agar aku meninggalkan urusan agama ini (dakwah), tidaklah aku akan meninggalkannya sehingga Allah memberi kemenangan agama ini atau aku hancur karenanya”
Dan pernahkah pula saudara mendengar kisah perang Badar dimana saat itu pasukan yang dipimpin Rasulullah hanya berjumlah sekitar 300 orang melawan pasukan kafir Quraisy yang mencapai sekitar 1000 orang, sesuai ba’iat Aqobah mereka kaum Anshar tidak ada kewajiban ikut jihad ketika peperangan terjadi di luar wilayah Madinah. Rosulullah meminta pendapat Sa’ad bin Muadz sebagai pemimpin kaum Anshar mengenai peperangan itu, “Wahai manusia sampaikan pendapat kalian kepadaku !”
Sa’d bin Mua’dz berkata saat ditanya Rasulullaah pendapatnya tentang perang Badar :
“ Kami sudah beriman kepada engkau. Kami sudah membenarkan engkau. Kami sudah bersaksi apa yang engkau bawa adalah kebenaran. Kami sudah memberikan sumpah dan janji kami untuk patuh dan taat. Maka majulah terus ya Rasulullaah seperti yang engkau kehendaki. Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, andaikata engkau bersama kami terhalang lautan lalu engkau terjun ke lautan itu, kamipun akan terjun bersama engkau. Tak seorang pun diantara kami yang akan mundur. Kami suka jika engkau besok berhadapan dengan musuh bersama kami. Sesungguhnya kami dikenal sebagai orang-orang yang sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami, apa yang engkau senangi. Maka majulah bersama kami dengan barokah Allah.”
Pernahkah juga saudara mendengar ataupun membaca bagaimana Rasulullah melantunkan doa di kala sangat kritis sewaktu berkecamuknya perang Badar tersebut ?
Kala itu setelah meluruskan barisan pasukan kaum muslimin, Rasulullah kembali ke tendanya dengan ditemani oleh Abu Bakar, dan tidak ada seorang pun kecuali keduanya. Lalu Rasulullah bermunajat kepada Rabb-Nya, dengan seluruh jiwanya ia menghadapkan diri kepada Tuhan-Nya, begitu dalam ia hanyut dalam doa.
Dalam permohonannya ia berkata, "Allahumma Ya Allah, bangsa Quraisy sekarang datang dengan segala kecongkakannya, berusaha untuk mendustakan rasul-Mu. Ya Allah, berilah pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, sekiranya Engkau membinasakan kaum kami pada hari ini, maka tiada lagi yang akan menyembah-Mu."
Sementara ia hanyut dalam doa sambil merentangkan tangan menghadap kiblat, mantelnya terjatuh. Ketika itu Abu Bakar menyaksikannya lalu meletakkan mantel itu kembali ke bahu Rasulullah, sambil ia berkata, "Wahai Nabi Allah, dengan doamu itu, sesungguhnya Allah pasti memenuhi janji-Nya kepadamu."
Tetapi sungguh pun begitu, Muhammad semakin dalam terbawa dalam aliran doa, dengan penuh ke-tawadhu-an dan kesungguhan hati ia terus memanjatkan doa, memohonkan pertolongan Tuhan-Nya dalam menghadapi peristiwa yang genting, yang oleh kaum muslimin sama sekali tidak diharapkan, dan untuk pertempuran itu pula mereka tidak memiliki persiapan.
Hingga karena letihnya dalam berdoa membuat Rasul tertidur, beberapa saat kemudian beliau terbangun dengan rasa gembira, dan bersabda, "Bergembiralah hai Abu Bakar, sungguh pertolongan Allah telah datang kepadamu. Inilah jibril sedang memegang kendali kuda. Ia menuntun kuda tersebut, dimana gigi di depannya terdapat kematian."
Kemudian ia keluar menemui sahabat-sahabatnya, dikerahkannya semangat sambil berkata:
"Demi Dia yang memegang jiwa Muhammad, setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan menempatkannya di surga."
Beberapa waktu lalu saya bertemu teman, dia seorang karyawan yang belajar menjadi pengusaha, sekarang kondisinya cukup baik, mungkin bisnis yang dikelolanya cukup berhasil.
"Alhamdulillah", dalam benakknu
Teringat setahun silam ia mengalami ujian berat, perusahaan yang baru dibangunnya mengalami kerugian yang cukup besar, bahkan rumah satu-satunya miliknya, itupun belum lunas mencicil dari sebuah Bank Syariah harus direlakannya untuk membayar hutang.
Tidak hanya itu, ia harus memikirkan tanggungan gaji karyawan yang saat itu mendekati lebaran pula. Belum lagi menenangkan istri yang ikut merasakan ketidak pastian penghasilan dari suaminya yang selama ini biasa merasakan kemapanan dari sebuah perusahaan besar, namun yang ku kenal ia telah bertekad untuk terus menjalankan usahanya dalam kondisi apapun.
Tak kuasa keherannku dan terus menanyakan bagaimana caranya ia bertahan mengatasi masalah tersebut. Karena yang terlihat saat ini ia sangat ceria sering tersenyum dan begitu menikmati usahanya. Sepertinya ia telah sukses….
Setelah lama ngobrol akhirnya mau juga ia menceritakan pengalamannya….
Benar sahabatku, ternyata jelas sekali…Allah itu sangat dekat. Tiada kekuatan yang dapat membuatku seperti ini kecuali Allah semata. Dia telah menunjukkan kekuasaannya, Masalah yang kuhadapi ternyata kecil sekali…… buat Allah walau terlihat sangat besar buatku.
Allah telah memenuhi janji-Nya, engkau tahu masalah yang kami hadapi, saat itu yang terpikir olehku adalah Allah tidak akan meninggalkan ku selama niatku, caraku dan manfaat dari perusahaan ku selalu kutujukan dalam pengabdian dijalan-Nya.
Kucoba ajak teman-teman di kantor untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan menjaga sholat tepat waktu, berjama’ah, sholat dhuha, shoum sunnah & tilawah. Alhamdulillah tidak putus sampai hari ini setiap pagi kami buka aktifitas kantor dengan tilawah dan tausiah.
Kujaga setiap aktivitas perusahaanku dari bercampur antara hak & bathil sekecil apapun, subhanallah untuk mengurus surat perusahaanku saja kami harus menunggu sampai berbulan-bulan yang seharusnya bilangan hari, karena kami tidak mau menambah uang kamipun harus menunggu selama itu. Tapi kami yakin setiap detiknya kami menunggu akan Allah catat menjadi amal sholeh.
Pernah suatu hari kami dipanggil oleh wakil owner (pimpro) untuk minta titipan yang intinya dengan me-mark up harga, kondisi perusahaan kami saat itu sangat kritis karena boro-boro bayar THR, bayar gaji bulan itupun kami belum terbayang, tapi subhanalllah dengan bahasa yang baik kami dapat menolakya dan alhamdulillah Allah tetap mengamanahkan proyek itu walaupun selanjutnya kami banyak mengalami kesulitan tapi selalu saja Allah beri jalan keluar. Aku pikir tawaran proyek itu belum sebesar yang ditawarkan paman Rosulullah dan kritisnya kondisi perusahaanku belum sekritis perang Badar.
Ayat “ Barang siapa bertaqwa pada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu“ selalu menjadi ayat favorit kami, karena kami sering sekali menikmati janji Allah itu.
Selain itu kami sering lantunkan doa untuk diberikan jalan keluar atau yang terbaik bagi kami, bahkan ribuan kali kami berdoa, bukan saja di saat sholat, dan bahkan kami sepakat untuk berdo’a secara explisit dengan menyebutkan permasalahan yang kami hadapi.
Akupun mengikuti cara rosulullah Muhammad dalam berdoa pada saat-saat yang genting, dan kusesuaikan redaksi doanya karena kami yakin hanya pertolongan Allah saja yang dapat menyelamatkan kami. Keyakinanku, kami hanya berusaha semaksimal mungkin terjadi atau tidak itu urusan Allah dan yang terjadi kepada kami yakin sekali itu pasti yang terbaik buat kami.
"Ya Allah, Engkau Maha Tahu kondisi kami ini, kami sedang dibebani masalah, dan Engkau tahu pula bahwa kami selalu berusaha menjaga cara kami menjemput rizkiMu, bahkan bila kami ragu kami tinggal sebagaimana yang diajarkan oleh Rosul-Mu walau mungkin hal itu halal dan kami tinggalkan karena keterbatasan ilmu kami. Kami yakin sekali perusahaan kami tidak akan bangkrut karena kami meninggalkannya karena takut pada Mu”.
Jika memang hal tersebut kami lakukan hanya untuk meraih keridhoan-Mu, mohon Ya Allah berilah jalan keluar untuk kami.
Engkaulah yang Maha Mengetahui hati hati kami, ikhlaskanlah hati kami, dan lapangkan hati kami apapun yang engkau putuskan, dan kami yakin apapun keputusan-Mu adalah yang terbaik buat kami.
Tak kusangka doa tersebut membuat jiwaku bergetar dan tak kuasa emosiku terlibat, nyaris kupeluk sahabatku itu, luar biasa makna dari doa tersebut.
Kemudian dia lanjutkan kembali, "Setelah kulantunkan doa tersebut, tak kusangka dalam waktu yang sangat singkat kasih sayang-Nya telah membuka sebuah jalan keluar yang tidak terduga, ibarat perang Badar Allah telah menurunkan banyak bala bantuan".
"Suatu waktu kami beranikan diri untuk mengikuti tender suatu proyek Mal yang terbilang besar yang tidak pernah tersentuh oleh perusahaan kami, bahkan proyek tersebut di luar kapasitas secara materi maupun keahlian yang kami punya. Entah kenapa kami yakin tugas kami hanya ikhtiar, kami akan rugi bila tidak mekasimalkan ikhtiar. Dapat tidaknya bukan urusanku itu urusan Allah.” Dan Allah akan menyempurnakan kekurangan kami sebagaimana pada perang Badar.
Allahu Akbar…ternyata menuai dari apa yang kami lakukan sebelumnya Allah menunjukkan peran-Nya, kami dapatkan proyek tersebut, spontan kami sujud syukur dan banyak lagi proyek yang kami dapatkan tidak jauh berselang dari kami berusaha tetap konsistensi dalam mendapatkan proyek dengan cara yang menurut kami tidak menyimpang dari aturan Allah.
Selanjutnya kutahu, temanku itu menjadi orang yang selalu bersyukur dan semakin percaya bahwa Allah bersamanya, dia yakin sekali bahwa hidup ini bukan bab senang atau susah, tinggal apapun yang terjadi harus menjadi amal sholeh dan selalu berbuat dengan memaksimalkan ikhtiar. Ia pernah mengatakan rizki itu adalah “apapun yg terjadi pada kita baik senang maupun susah yang membuat kita semakin dekat dengan-Nya”.
Jadi, bagi para enterpreneur, tidak selamanya masa-masa menyenangkan hadir dari kehidupan seorang pengusaha, ketahuilah ukuran keberhasilan bukan dari besar kecilnya omset tapi bagaimana setiap apa yang terjadi itu menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya. Besar kecil hanya alat evaluasi agar ikhtiar kita lebih baik dari sebelumnya sehingga kita akan digolongkan menjadi orang yang beruntung . Dan ukuran lebih baik adalah bagaimana kita konsisten meningkatkan niat, cara dan kemanfaatan dari usaha kita dalam mengharap ridho Allah.