Kamis, 05 Maret 2009

Pilar Construction - Building Credibility

Alhadulillah perusahaan kami (PT. Cipta Pilar Persada) sudah masuk tahun ke lima, cukup banyak pengalaman yang sudah kami alami dalam beberapa tahun ini. Mulai proyek ratusan juta s/d puluhan milyar, proyek yang untung 30 % sampai rugi 40%, piutang macet milyaran rupiah sampai hutang juga hampir mencapai angka yang sama besarnya. Dikirimi buah-buahan & kue oleh suplier/subkon sampai dikirimi 20 debt colector (preman) karena terjadi dispute dg subkon. Alhamdulilah luarbiasa. Nikmat Allah yang mana lagi yang akan kami dustakan. Berbekal keyakinan kpd Allah & semangat membangun perusahaan kontruksi yang komit dengan nilai-nilai kebenaran, alhamdulillah Allah ijinkan kami terus berkembang dan masih eksis sampai saat ini. Dan luar biasanya lagi ditengah kerasnya persaingan & praktek sogok menyogok untuk mendapatkan proyek. Atas ijin Allah kami masih mampu mendapatkan proyek tanpa harus ikut bermain dengan hal-2 yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran itu. Kami yakin perusahaan ini akan terus berkembang semakin besar diatas tegaknya nilai-nilai kebenaran yang sejatinya diharapkan oleh orang yang masih mempunyai nurani kebenaran sejati.Untuk mengenal lebih lanjut bisa dibuka pada web kami : www.pilar-corporation.com. Mohon maaf tidak update karena sedang dalam proses penyempurnaan. Insya Allah tanggal 13 Maret 2009 salah satu proyek kami yaitu Islamic Centre Al-Muttaqun, Prambanan, Klaten akan diresmikan oleh Presiden RI & Ketua MPR RI.Mohon dukungan do'anya. Bila teman-teman ada informasi proyek & ingin share pengalaman dapat menghubungi kami melalui blog ini.

Selasa, 03 Maret 2009

Tangisan tobat Syahid kecilku

Tidak biasanya aku pulang sore. Banyak masalah-masalah perusahaan yang cukup menguras energi & pikiranku. Sekitar jam 17.30 aku sampai dirumah mungilku. Di teras depan. Di bangku kayu sedikit reyot itu, tampak Syahid kecilku sedang duduk dengan mata merah. Oh..baru bangun tidur rupanya. Belum sempat menyambut kepulanganku, spontan dia melompat dari bangku menyambut ajakan mbaknya jalan-jalan naik sepeda. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Berselang beberapa menit kemudian, saat aku keluar dari kamar mandi. Terdengar sayup-sayup suara tangis Syahidku diatas tempat tidurnya, aku sedikit kaget. Tapi seperti biasanya, kupikir telah terjadi perang antara dua insan dengan frekwensi berbeda yang satu 10 tahun (mbaknya) dan Syahid yang masih 5 thn. "Syahid kenapa?" tanyaku kepada Umminya yang sedang masak untuk makan malam kami. Sambil masak, "Iya, tadi diakan baru bangun tidur, terus diajak main sepeda sama Nadhila. Ternyata dia belum sholat ashar. Pas dia inget langsung lari pulang, terus wudhu, eh pas mau sholat kedengeran adzan. Jadi sekarang nangis deh" kata Umminya.

Memang sejak sekitar umur 4 tahun kami menemukan hal yang luar biasa pada diri Syahidku itu, dia tidak pernah meninggalkan sholat. Dan sholatnya pun tanpa harus disuruh. Sering juga ikut sholat berjamaah di masjid bersamaku. Sesekali justru dia bertanya, "sudah adzan belum mi..?" padahal waktu sholat masih beberapa jam lagi.

Allahuakbar, subhanallah...subhanallah spontan hatiku berdecak. Kudekati Syahid kecilku yang punya jiwa besar itu. "Oo..gitu.." ku coba mendekatinya. "Syahid terlambat sholat ya ?" tanyaku memancing pembicaraan. "Iya..tadi mbak Iya (panggilan akrab mbaknya) ngajak Aik main, mbak Iya ngajak mainnya lama banget, jadi Aik terlambat sholat" sambil terisak-isak menyalahkan mbaknya. "Ya sudah. Syahid gak sengaja kan?", "iya....." jawabnya spontan . "Ya sudah, sekarang Syahid ikut Abi sholat ke mesjid ya, nanti setelah sholat magrib Syahid sholat ashar, terus minta maaf sama Allah ya...!". " Iya..." bersemangat sambil mengambil sarung birunya.

Ada getaran yang luar biasa dalam hatiku, mataku berkaca-kaca nyaris netes membasahi pipiku yang baru saja kuseka dengan anduk. Semua masalah kantorku tereleminasi sesaat dengan kejadian tadi. Kebahagian yang luar biasa menembus batas kebahagian saat dapat informasi perusahaanku menang tender proyek besar. Aku bersyukur, berdzikir berulang ulang sepanjang perjalanan ke mesjid bersama Syahid kecilku. Tak terbendung juga akhirnya air mataku mebasahi pipi melebihi basahnya bibirku mengagungkan AsmaNya. Allahuakbar-3, subhanallah-3, alhamdulillah-3. Ya Allah terima kasih atas episode yang Engkau karuniakan ini. Sungguh Engkau maha pengasih lagi penyayang. Engkau hibur hatiku dikala perusahaanku banyak mendapatkan ujian dariMu yang membutuhkan semangat & kekuatan melalui nikmat seperti ini.

Setelah sholat magrib sempat kutanya, "gimana Syahid udah sholat ashar ?, terus udah minta maaf sama Allah?" "sudah" jawabnya kegirangan. Aku tersenyum bahagia yang siapapun tidak akan dapat merasakannya kecuali mengalaminya langsung. ya Allah jadikan Syahid kecilku termasuk diantara hamba-hamba yang sholeh & pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. Amin..ya Robbana

Ego itu dikuburnya dalam-dalam

Sambil berbaring dikamar tidur, seperti biasanya malam ini kami menelpon Ici (panggilan akrab Istiqomah) putri sulung kami yang sekolah di boarding school di daerah Subang, kala itu suaranya jauh berdeda, hmm...bisa kutebak pasti ada masalah. "Bi...ici gak mau nunggu bagi rapot, Ici mau pulang besok" membenarkan tebakanku, "Memang kenapa ?" tanyaku santai. "Ici lagi sebel ama teman Ici pokoknya Ici mau cepet pulang" berupaya meyakinkanku.

Rupanya dia sedang bermasalah dengan teman sekamarnya. Menurut cerita salah satu guru kepada Umminya anak tersebut memang bermasalah. Hampir semua teman sekamarnya tidak suka dengannya, tidak mau rapiin kamar, sering ninggalin barang kotor ditempat tidur, keras kepala, dsb. Sampai pada satu waktu ternyata putri sulungku itu terlibat pertengkaran keras dengannya, bahkan sampai saling melempar air ke tempat tidur.Wow... kacau juga pikirku, kutenangkan hatiku sebelum menerima pengaduan sepihak ini, apalagi tidak mudah untuk tidak berpihak kepada putri yang merupakan darah dagingku. Keberpihakan itu mulai tampak dari wajah dan intonasi suara umminya yang ikut nimbrung mendengarkan melalui speakerphone HP-ku.

Selayaknya sebagai orang tua kami mencoba memberi jalan keluar. "Ici, mau gak abi kasih tips yang insya Allah mujarap", "Apa....?" jawabnya putus asa. Sebelum kukatakan tips itu, terlebih dahulu ku ceritakan kisah Rasolullah saat menjenguk orang yang biasa melemparinya kotorran setiap melewati satu jalan. Orang itu bertanya kenapa engkau menjengukku, Rosulullah menjawab, ” Selama ini setiap aku lewat jalan itu selalu ada yang melempariku kotoran dan sudah beberapa hari ini tidak ada yang melempariku, maka aku bertanya kepada orang disekitar situ, katanya orang yang biasa melempariku sedang sakit, untuk itu maka aku ingin menjengukmu”.Singkat cerita orang tersebut akhirnya masuk Islam karena kagum dengan akhlak beliau.

"Nah sekarang denger ya tips dari Abi", "selama ini Ici kan rajin sholat malam, nah nanti malam setelah sholat bagaimana kalau Ici do'ain temen Ici itu yang baik-2 pada Allah". Belum sempet kuteruskan dia langsung menyanggah " ah Abi aneh-2 aja, orang Ici lagi sebel sama dia malah suruh do'ain, gimana sih, gak mau-gak mau enak aja" jawabnya cetus. Sambil menutup mulut, Umminya tertawa mendengar tipsku yang aneh dan reaksinya itu. Ha-3...sambil tertawa kucoba lagi ceritakan kisah lain yang juga pengalamanku. Setelah itu " bener Ci... coba deh nanti malam Ici berdo'a pada Allah seperti ini, ya Allah mudahkanlah urusannya, baguskanlah nilai-2 ulangannya, berilah hidayahMu agar ia menjadi anak baik, gitu ..... coba dulu deh, nanti Ici tunggu apa yang terjadi pada temen Ici itu" kataku mencoba meyakinkannya. "Oya Ci...kalau perlu ditambah dengan infaq supaya Allah mengabulkan do'a Ici". "Ah abi... abi kan gak tau gimana selama ini sikap dia sama Ici, juga sama temen-2 Ici, udah ah pokoknya Ici mau pulang cepet" jawabnya bertahan. Aku dan istriku senyam-senyum dan membahas hal lain sambil menggodanya untuk mencoba mendo'kan temennya itu.

Berselang sepekan seperti biasa Umminya menelpon putriku kembali. Saat ini gantian aku yang mendengarkan melalui speakerphone. Setelah beberapa lama sambil berbisik kuminta Umminya menanyakan temannya itu. Subhanallah...Allahu Akbar berkaca-kaca mataku mendenger jawaban putri tercintaku itu."Iya...mi...alhamdulillah, Ici udah do'ain seperti yang abi bilang, sekarang dia baik banget sama Ici malah kemaren pinjem jaket Ici, terus dia sudah berubah gak seperti dulu, cuma sekarang temen Ici yang lain malah marah sama Ici karena sekarang Ici baik sama dia" secepat kilat Umminya langsung menanggapi "kalau gitu Ici do'ain lagi temen Ici yang marah itu", "Iya mi....nanti Ici do'ain" jawabnya mantab. Kemudian mereka melanjutkan pembicaraan lainnya.

Alhamdulillah....betapa senangnya hatiku saat itu. Atas ijin Allah putriku mampu mengubur egonya dalam-dalam, bahkan yang lebih membuatku bangga padanya adalah ketika ia mau mencoba. Dan luar biasanya seketika itu pula Allah langsung memperlihatkan hasilnya. Terima kasih ya Allah, rasanya tiada kata-kata lagi dalam pikiranku untuk mengungkapkan rasa syukurku atas episode yang luar biasa ini yang Engkau anugerahkan kepadaku.