Jumat, 07 September 2007

Dengan syariah, ternyata Allah buat semua jadi mudah...

Seringkah kita mendengar

“Bank konvensional itu masih halal, karena kondisinya darurat”
“Masa pake bank syariah malah lebih mahal, kitakan bisnis tentu cari yang murah dong”
“Sama aja bank konvensional atau bank syariah cuma beda di akad, itumah akal-akalan bank aja biar laku”..padahal yang bedain kita berhubungan dengan istri yang halal atau dengan PSK di AKAD-nya ya….he..he..he…..


Banyak sekali pertimbangan kita untuk tidak pake bank syariah, yang ternyata ujung-ujungnya biasanya gak mau susah atau berkorban buat kemajuan islam dalam pemberlakuan syariah………

Setelah sekian waktu berbisnis alhamdulillah selama ada yang system syariah kami coba untuk menggunakannya walaupun, lama, mahal atau syaratnya banyak, kalo gak gitu sapa lagi ya yang mau membantu berkembangnya perbankkan atau ekonomi syariah kalo bukan kita-kita…..bukan bermaksud ngajarin ya……

Dan dasyatnya subhanallah banget…….., pernah kita punya pengalaman cari dana sampe dengan 4 Milyar untuk satu proyek yang nilainya skitar 28 Milyar, kita berusaha keras untuk cari investor baik bank syariah maupun perorangan berbulan-bulan, tau gak friends ternyata Allah berikan jalan keluar yang lain yang sama sekali tidak terduga & gak kepikir sama sekali sebelumnya, si owner (pemilik proyek) dapat pembiayaan dari bank pemerintah dan syaratnya dana dari bank tersebut harus dicairkan melalui kita sebagai kontraktor, alhasil yang tadinya kita cari dana tambahan buat cash flow proyek….eh proyek itu bisa jalan cukup dengan dana yang lewat kita. Terbukti ya ktika kita coba bertawakal pada Allah maka Allah akan berikan dari tempat yang tidak diduga-duga….Allahu akbar.

Alhamdulillah sudah beberapa akad dengan pola syariah kita lakukan dalam beberapa kerjasama pembiayaan baik lewat bank syariah maupun investor perorangan, kalo para sahabat ingin memanfaatkannya bisa down load skema kerjasama & draft kontrak dengan investor perorangannya lewat http://www.pilar-corporation.com/

Tapi masih banyak kekurangnya baik isi maupun aplikasi….yah paling tidak kita ikhtiar terus untuk menggunakan pola syariah, jadi kasih inputan ya….biar menjadi lebih baik. Semoga bermanfaat...

Catatan Seorang Sahabat

Pernahkah saudara mendengar sebuah hadits bagaimana cara Rosululllah menjawab bujukan Pamannya Abu Thalib untuk berhenti berdakwah.
Rasulullah dengan penuh percaya diri dan teguh pendirian menjawab : “Wahai Pamanku, demi Allah, sekiranya mereka mampu meletakkan matahari ditangan kananku dan rembulan ditangan kiriku agar aku meninggalkan urusan agama ini (dakwah), tidaklah aku akan meninggalkannya sehingga Allah memberi kemenangan agama ini atau aku hancur karenanya”
Dan pernahkah pula saudara mendengar kisah perang Badar dimana saat itu pasukan yang dipimpin Rasulullah hanya berjumlah sekitar 300 orang melawan pasukan kafir Quraisy yang mencapai sekitar 1000 orang, sesuai ba’iat Aqobah mereka kaum Anshar tidak ada kewajiban ikut jihad ketika peperangan terjadi di luar wilayah Madinah. Rosulullah meminta pendapat Sa’ad bin Muadz sebagai pemimpin kaum Anshar mengenai peperangan itu, “Wahai manusia sampaikan pendapat kalian kepadaku !”
Sa’d bin Mua’dz berkata saat ditanya Rasulullaah pendapatnya tentang perang Badar :
“ Kami sudah beriman kepada engkau. Kami sudah membenarkan engkau. Kami sudah bersaksi apa yang engkau bawa adalah kebenaran. Kami sudah memberikan sumpah dan janji kami untuk patuh dan taat. Maka majulah terus ya Rasulullaah seperti yang engkau kehendaki. Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, andaikata engkau bersama kami terhalang lautan lalu engkau terjun ke lautan itu, kamipun akan terjun bersama engkau. Tak seorang pun diantara kami yang akan mundur. Kami suka jika engkau besok berhadapan dengan musuh bersama kami. Sesungguhnya kami dikenal sebagai orang-orang yang sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami, apa yang engkau senangi. Maka majulah bersama kami dengan barokah Allah.”
Pernahkah juga saudara mendengar ataupun membaca bagaimana Rasulullah melantunkan doa di kala sangat kritis sewaktu berkecamuknya perang Badar tersebut ?
Kala itu setelah meluruskan barisan pasukan kaum muslimin, Rasulullah kembali ke tendanya dengan ditemani oleh Abu Bakar, dan tidak ada seorang pun kecuali keduanya. Lalu Rasulullah bermunajat kepada Rabb-Nya, dengan seluruh jiwanya ia menghadapkan diri kepada Tuhan-Nya, begitu dalam ia hanyut dalam doa.
Dalam permohonannya ia berkata, "Allahumma Ya Allah, bangsa Quraisy sekarang datang dengan segala kecongkakannya, berusaha untuk mendustakan rasul-Mu. Ya Allah, berilah pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, sekiranya Engkau membinasakan kaum kami pada hari ini, maka tiada lagi yang akan menyembah-Mu."
Sementara ia hanyut dalam doa sambil merentangkan tangan menghadap kiblat, mantelnya terjatuh. Ketika itu Abu Bakar menyaksikannya lalu meletakkan mantel itu kembali ke bahu Rasulullah, sambil ia berkata, "Wahai Nabi Allah, dengan doamu itu, sesungguhnya Allah pasti memenuhi janji-Nya kepadamu."
Tetapi sungguh pun begitu, Muhammad semakin dalam terbawa dalam aliran doa, dengan penuh ke-tawadhu-an dan kesungguhan hati ia terus memanjatkan doa, memohonkan pertolongan Tuhan-Nya dalam menghadapi peristiwa yang genting, yang oleh kaum muslimin sama sekali tidak diharapkan, dan untuk pertempuran itu pula mereka tidak memiliki persiapan.
Hingga karena letihnya dalam berdoa membuat Rasul tertidur, beberapa saat kemudian beliau terbangun dengan rasa gembira, dan bersabda, "Bergembiralah hai Abu Bakar, sungguh pertolongan Allah telah datang kepadamu. Inilah jibril sedang memegang kendali kuda. Ia menuntun kuda tersebut, dimana gigi di depannya terdapat kematian."
Kemudian ia keluar menemui sahabat-sahabatnya, dikerahkannya semangat sambil berkata:
"Demi Dia yang memegang jiwa Muhammad, setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan menempatkannya di surga."
Beberapa waktu lalu saya bertemu teman, dia seorang karyawan yang belajar menjadi pengusaha, sekarang kondisinya cukup baik, mungkin bisnis yang dikelolanya cukup berhasil.
"Alhamdulillah", dalam benakknu
Teringat setahun silam ia mengalami ujian berat, perusahaan yang baru dibangunnya mengalami kerugian yang cukup besar, bahkan rumah satu-satunya miliknya, itupun belum lunas mencicil dari sebuah Bank Syariah harus direlakannya untuk membayar hutang.
Tidak hanya itu, ia harus memikirkan tanggungan gaji karyawan yang saat itu mendekati lebaran pula. Belum lagi menenangkan istri yang ikut merasakan ketidak pastian penghasilan dari suaminya yang selama ini biasa merasakan kemapanan dari sebuah perusahaan besar, namun yang ku kenal ia telah bertekad untuk terus menjalankan usahanya dalam kondisi apapun.
Tak kuasa keherannku dan terus menanyakan bagaimana caranya ia bertahan mengatasi masalah tersebut. Karena yang terlihat saat ini ia sangat ceria sering tersenyum dan begitu menikmati usahanya. Sepertinya ia telah sukses….
Setelah lama ngobrol akhirnya mau juga ia menceritakan pengalamannya….
Benar sahabatku, ternyata jelas sekali…Allah itu sangat dekat. Tiada kekuatan yang dapat membuatku seperti ini kecuali Allah semata. Dia telah menunjukkan kekuasaannya, Masalah yang kuhadapi ternyata kecil sekali…… buat Allah walau terlihat sangat besar buatku.
Allah telah memenuhi janji-Nya, engkau tahu masalah yang kami hadapi, saat itu yang terpikir olehku adalah Allah tidak akan meninggalkan ku selama niatku, caraku dan manfaat dari perusahaan ku selalu kutujukan dalam pengabdian dijalan-Nya.
Kucoba ajak teman-teman di kantor untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan menjaga sholat tepat waktu, berjama’ah, sholat dhuha, shoum sunnah & tilawah. Alhamdulillah tidak putus sampai hari ini setiap pagi kami buka aktifitas kantor dengan tilawah dan tausiah.
Kujaga setiap aktivitas perusahaanku dari bercampur antara hak & bathil sekecil apapun, subhanallah untuk mengurus surat perusahaanku saja kami harus menunggu sampai berbulan-bulan yang seharusnya bilangan hari, karena kami tidak mau menambah uang kamipun harus menunggu selama itu. Tapi kami yakin setiap detiknya kami menunggu akan Allah catat menjadi amal sholeh.
Pernah suatu hari kami dipanggil oleh wakil owner (pimpro) untuk minta titipan yang intinya dengan me-mark up harga, kondisi perusahaan kami saat itu sangat kritis karena boro-boro bayar THR, bayar gaji bulan itupun kami belum terbayang, tapi subhanalllah dengan bahasa yang baik kami dapat menolakya dan alhamdulillah Allah tetap mengamanahkan proyek itu walaupun selanjutnya kami banyak mengalami kesulitan tapi selalu saja Allah beri jalan keluar. Aku pikir tawaran proyek itu belum sebesar yang ditawarkan paman Rosulullah dan kritisnya kondisi perusahaanku belum sekritis perang Badar.
Ayat “ Barang siapa bertaqwa pada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu“ selalu menjadi ayat favorit kami, karena kami sering sekali menikmati janji Allah itu.
Selain itu kami sering lantunkan doa untuk diberikan jalan keluar atau yang terbaik bagi kami, bahkan ribuan kali kami berdoa, bukan saja di saat sholat, dan bahkan kami sepakat untuk berdo’a secara explisit dengan menyebutkan permasalahan yang kami hadapi.
Akupun mengikuti cara rosulullah Muhammad dalam berdoa pada saat-saat yang genting, dan kusesuaikan redaksi doanya karena kami yakin hanya pertolongan Allah saja yang dapat menyelamatkan kami. Keyakinanku, kami hanya berusaha semaksimal mungkin terjadi atau tidak itu urusan Allah dan yang terjadi kepada kami yakin sekali itu pasti yang terbaik buat kami.
"Ya Allah, Engkau Maha Tahu kondisi kami ini, kami sedang dibebani masalah, dan Engkau tahu pula bahwa kami selalu berusaha menjaga cara kami menjemput rizkiMu, bahkan bila kami ragu kami tinggal sebagaimana yang diajarkan oleh Rosul-Mu walau mungkin hal itu halal dan kami tinggalkan karena keterbatasan ilmu kami. Kami yakin sekali perusahaan kami tidak akan bangkrut karena kami meninggalkannya karena takut pada Mu”.
Jika memang hal tersebut kami lakukan hanya untuk meraih keridhoan-Mu, mohon Ya Allah berilah jalan keluar untuk kami.
Engkaulah yang Maha Mengetahui hati hati kami, ikhlaskanlah hati kami, dan lapangkan hati kami apapun yang engkau putuskan, dan kami yakin apapun keputusan-Mu adalah yang terbaik buat kami.
Tak kusangka doa tersebut membuat jiwaku bergetar dan tak kuasa emosiku terlibat, nyaris kupeluk sahabatku itu, luar biasa makna dari doa tersebut.
Kemudian dia lanjutkan kembali, "Setelah kulantunkan doa tersebut, tak kusangka dalam waktu yang sangat singkat kasih sayang-Nya telah membuka sebuah jalan keluar yang tidak terduga, ibarat perang Badar Allah telah menurunkan banyak bala bantuan".
"Suatu waktu kami beranikan diri untuk mengikuti tender suatu proyek Mal yang terbilang besar yang tidak pernah tersentuh oleh perusahaan kami, bahkan proyek tersebut di luar kapasitas secara materi maupun keahlian yang kami punya. Entah kenapa kami yakin tugas kami hanya ikhtiar, kami akan rugi bila tidak mekasimalkan ikhtiar. Dapat tidaknya bukan urusanku itu urusan Allah.” Dan Allah akan menyempurnakan kekurangan kami sebagaimana pada perang Badar.
Allahu Akbar…ternyata menuai dari apa yang kami lakukan sebelumnya Allah menunjukkan peran-Nya, kami dapatkan proyek tersebut, spontan kami sujud syukur dan banyak lagi proyek yang kami dapatkan tidak jauh berselang dari kami berusaha tetap konsistensi dalam mendapatkan proyek dengan cara yang menurut kami tidak menyimpang dari aturan Allah.
Selanjutnya kutahu, temanku itu menjadi orang yang selalu bersyukur dan semakin percaya bahwa Allah bersamanya, dia yakin sekali bahwa hidup ini bukan bab senang atau susah, tinggal apapun yang terjadi harus menjadi amal sholeh dan selalu berbuat dengan memaksimalkan ikhtiar. Ia pernah mengatakan rizki itu adalah “apapun yg terjadi pada kita baik senang maupun susah yang membuat kita semakin dekat dengan-Nya”.
Jadi, bagi para enterpreneur, tidak selamanya masa-masa menyenangkan hadir dari kehidupan seorang pengusaha, ketahuilah ukuran keberhasilan bukan dari besar kecilnya omset tapi bagaimana setiap apa yang terjadi itu menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya. Besar kecil hanya alat evaluasi agar ikhtiar kita lebih baik dari sebelumnya sehingga kita akan digolongkan menjadi orang yang beruntung . Dan ukuran lebih baik adalah bagaimana kita konsisten meningkatkan niat, cara dan kemanfaatan dari usaha kita dalam mengharap ridho Allah.