Kamis, 05 Maret 2009

Pilar Construction - Building Credibility

Alhadulillah perusahaan kami (PT. Cipta Pilar Persada) sudah masuk tahun ke lima, cukup banyak pengalaman yang sudah kami alami dalam beberapa tahun ini. Mulai proyek ratusan juta s/d puluhan milyar, proyek yang untung 30 % sampai rugi 40%, piutang macet milyaran rupiah sampai hutang juga hampir mencapai angka yang sama besarnya. Dikirimi buah-buahan & kue oleh suplier/subkon sampai dikirimi 20 debt colector (preman) karena terjadi dispute dg subkon. Alhamdulilah luarbiasa. Nikmat Allah yang mana lagi yang akan kami dustakan. Berbekal keyakinan kpd Allah & semangat membangun perusahaan kontruksi yang komit dengan nilai-nilai kebenaran, alhamdulillah Allah ijinkan kami terus berkembang dan masih eksis sampai saat ini. Dan luar biasanya lagi ditengah kerasnya persaingan & praktek sogok menyogok untuk mendapatkan proyek. Atas ijin Allah kami masih mampu mendapatkan proyek tanpa harus ikut bermain dengan hal-2 yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran itu. Kami yakin perusahaan ini akan terus berkembang semakin besar diatas tegaknya nilai-nilai kebenaran yang sejatinya diharapkan oleh orang yang masih mempunyai nurani kebenaran sejati.Untuk mengenal lebih lanjut bisa dibuka pada web kami : www.pilar-corporation.com. Mohon maaf tidak update karena sedang dalam proses penyempurnaan. Insya Allah tanggal 13 Maret 2009 salah satu proyek kami yaitu Islamic Centre Al-Muttaqun, Prambanan, Klaten akan diresmikan oleh Presiden RI & Ketua MPR RI.Mohon dukungan do'anya. Bila teman-teman ada informasi proyek & ingin share pengalaman dapat menghubungi kami melalui blog ini.

Selasa, 03 Maret 2009

Tangisan tobat Syahid kecilku

Tidak biasanya aku pulang sore. Banyak masalah-masalah perusahaan yang cukup menguras energi & pikiranku. Sekitar jam 17.30 aku sampai dirumah mungilku. Di teras depan. Di bangku kayu sedikit reyot itu, tampak Syahid kecilku sedang duduk dengan mata merah. Oh..baru bangun tidur rupanya. Belum sempat menyambut kepulanganku, spontan dia melompat dari bangku menyambut ajakan mbaknya jalan-jalan naik sepeda. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Berselang beberapa menit kemudian, saat aku keluar dari kamar mandi. Terdengar sayup-sayup suara tangis Syahidku diatas tempat tidurnya, aku sedikit kaget. Tapi seperti biasanya, kupikir telah terjadi perang antara dua insan dengan frekwensi berbeda yang satu 10 tahun (mbaknya) dan Syahid yang masih 5 thn. "Syahid kenapa?" tanyaku kepada Umminya yang sedang masak untuk makan malam kami. Sambil masak, "Iya, tadi diakan baru bangun tidur, terus diajak main sepeda sama Nadhila. Ternyata dia belum sholat ashar. Pas dia inget langsung lari pulang, terus wudhu, eh pas mau sholat kedengeran adzan. Jadi sekarang nangis deh" kata Umminya.

Memang sejak sekitar umur 4 tahun kami menemukan hal yang luar biasa pada diri Syahidku itu, dia tidak pernah meninggalkan sholat. Dan sholatnya pun tanpa harus disuruh. Sering juga ikut sholat berjamaah di masjid bersamaku. Sesekali justru dia bertanya, "sudah adzan belum mi..?" padahal waktu sholat masih beberapa jam lagi.

Allahuakbar, subhanallah...subhanallah spontan hatiku berdecak. Kudekati Syahid kecilku yang punya jiwa besar itu. "Oo..gitu.." ku coba mendekatinya. "Syahid terlambat sholat ya ?" tanyaku memancing pembicaraan. "Iya..tadi mbak Iya (panggilan akrab mbaknya) ngajak Aik main, mbak Iya ngajak mainnya lama banget, jadi Aik terlambat sholat" sambil terisak-isak menyalahkan mbaknya. "Ya sudah. Syahid gak sengaja kan?", "iya....." jawabnya spontan . "Ya sudah, sekarang Syahid ikut Abi sholat ke mesjid ya, nanti setelah sholat magrib Syahid sholat ashar, terus minta maaf sama Allah ya...!". " Iya..." bersemangat sambil mengambil sarung birunya.

Ada getaran yang luar biasa dalam hatiku, mataku berkaca-kaca nyaris netes membasahi pipiku yang baru saja kuseka dengan anduk. Semua masalah kantorku tereleminasi sesaat dengan kejadian tadi. Kebahagian yang luar biasa menembus batas kebahagian saat dapat informasi perusahaanku menang tender proyek besar. Aku bersyukur, berdzikir berulang ulang sepanjang perjalanan ke mesjid bersama Syahid kecilku. Tak terbendung juga akhirnya air mataku mebasahi pipi melebihi basahnya bibirku mengagungkan AsmaNya. Allahuakbar-3, subhanallah-3, alhamdulillah-3. Ya Allah terima kasih atas episode yang Engkau karuniakan ini. Sungguh Engkau maha pengasih lagi penyayang. Engkau hibur hatiku dikala perusahaanku banyak mendapatkan ujian dariMu yang membutuhkan semangat & kekuatan melalui nikmat seperti ini.

Setelah sholat magrib sempat kutanya, "gimana Syahid udah sholat ashar ?, terus udah minta maaf sama Allah?" "sudah" jawabnya kegirangan. Aku tersenyum bahagia yang siapapun tidak akan dapat merasakannya kecuali mengalaminya langsung. ya Allah jadikan Syahid kecilku termasuk diantara hamba-hamba yang sholeh & pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. Amin..ya Robbana

Ego itu dikuburnya dalam-dalam

Sambil berbaring dikamar tidur, seperti biasanya malam ini kami menelpon Ici (panggilan akrab Istiqomah) putri sulung kami yang sekolah di boarding school di daerah Subang, kala itu suaranya jauh berdeda, hmm...bisa kutebak pasti ada masalah. "Bi...ici gak mau nunggu bagi rapot, Ici mau pulang besok" membenarkan tebakanku, "Memang kenapa ?" tanyaku santai. "Ici lagi sebel ama teman Ici pokoknya Ici mau cepet pulang" berupaya meyakinkanku.

Rupanya dia sedang bermasalah dengan teman sekamarnya. Menurut cerita salah satu guru kepada Umminya anak tersebut memang bermasalah. Hampir semua teman sekamarnya tidak suka dengannya, tidak mau rapiin kamar, sering ninggalin barang kotor ditempat tidur, keras kepala, dsb. Sampai pada satu waktu ternyata putri sulungku itu terlibat pertengkaran keras dengannya, bahkan sampai saling melempar air ke tempat tidur.Wow... kacau juga pikirku, kutenangkan hatiku sebelum menerima pengaduan sepihak ini, apalagi tidak mudah untuk tidak berpihak kepada putri yang merupakan darah dagingku. Keberpihakan itu mulai tampak dari wajah dan intonasi suara umminya yang ikut nimbrung mendengarkan melalui speakerphone HP-ku.

Selayaknya sebagai orang tua kami mencoba memberi jalan keluar. "Ici, mau gak abi kasih tips yang insya Allah mujarap", "Apa....?" jawabnya putus asa. Sebelum kukatakan tips itu, terlebih dahulu ku ceritakan kisah Rasolullah saat menjenguk orang yang biasa melemparinya kotorran setiap melewati satu jalan. Orang itu bertanya kenapa engkau menjengukku, Rosulullah menjawab, ” Selama ini setiap aku lewat jalan itu selalu ada yang melempariku kotoran dan sudah beberapa hari ini tidak ada yang melempariku, maka aku bertanya kepada orang disekitar situ, katanya orang yang biasa melempariku sedang sakit, untuk itu maka aku ingin menjengukmu”.Singkat cerita orang tersebut akhirnya masuk Islam karena kagum dengan akhlak beliau.

"Nah sekarang denger ya tips dari Abi", "selama ini Ici kan rajin sholat malam, nah nanti malam setelah sholat bagaimana kalau Ici do'ain temen Ici itu yang baik-2 pada Allah". Belum sempet kuteruskan dia langsung menyanggah " ah Abi aneh-2 aja, orang Ici lagi sebel sama dia malah suruh do'ain, gimana sih, gak mau-gak mau enak aja" jawabnya cetus. Sambil menutup mulut, Umminya tertawa mendengar tipsku yang aneh dan reaksinya itu. Ha-3...sambil tertawa kucoba lagi ceritakan kisah lain yang juga pengalamanku. Setelah itu " bener Ci... coba deh nanti malam Ici berdo'a pada Allah seperti ini, ya Allah mudahkanlah urusannya, baguskanlah nilai-2 ulangannya, berilah hidayahMu agar ia menjadi anak baik, gitu ..... coba dulu deh, nanti Ici tunggu apa yang terjadi pada temen Ici itu" kataku mencoba meyakinkannya. "Oya Ci...kalau perlu ditambah dengan infaq supaya Allah mengabulkan do'a Ici". "Ah abi... abi kan gak tau gimana selama ini sikap dia sama Ici, juga sama temen-2 Ici, udah ah pokoknya Ici mau pulang cepet" jawabnya bertahan. Aku dan istriku senyam-senyum dan membahas hal lain sambil menggodanya untuk mencoba mendo'kan temennya itu.

Berselang sepekan seperti biasa Umminya menelpon putriku kembali. Saat ini gantian aku yang mendengarkan melalui speakerphone. Setelah beberapa lama sambil berbisik kuminta Umminya menanyakan temannya itu. Subhanallah...Allahu Akbar berkaca-kaca mataku mendenger jawaban putri tercintaku itu."Iya...mi...alhamdulillah, Ici udah do'ain seperti yang abi bilang, sekarang dia baik banget sama Ici malah kemaren pinjem jaket Ici, terus dia sudah berubah gak seperti dulu, cuma sekarang temen Ici yang lain malah marah sama Ici karena sekarang Ici baik sama dia" secepat kilat Umminya langsung menanggapi "kalau gitu Ici do'ain lagi temen Ici yang marah itu", "Iya mi....nanti Ici do'ain" jawabnya mantab. Kemudian mereka melanjutkan pembicaraan lainnya.

Alhamdulillah....betapa senangnya hatiku saat itu. Atas ijin Allah putriku mampu mengubur egonya dalam-dalam, bahkan yang lebih membuatku bangga padanya adalah ketika ia mau mencoba. Dan luar biasanya seketika itu pula Allah langsung memperlihatkan hasilnya. Terima kasih ya Allah, rasanya tiada kata-kata lagi dalam pikiranku untuk mengungkapkan rasa syukurku atas episode yang luar biasa ini yang Engkau anugerahkan kepadaku.

Senin, 26 Januari 2009

Helmku yang malang & polisi yang kebangetan….

Sungguh menggelikan kejadian 9 tahun yang lalu itu, hari pertamaku masuk kerja di perusahaan multi nasional aku parkirkan motor ditempat parkir gedung di bilangan jalan Thamrin, namun saat waktunya pulang ternyata helm pelindung kepalaku hilang. Ha-3…. hari pertama kerja yang menyenangkan, aku paksakan berkendara tanpa helm, ku niatkan untuk membeli helm yang biasa dijual dipinggir jalan, dengan penuh kehati-hatian sambil berjalan ditepi jalan (batas jalan aspal & tanah). Alhamdulillah kurang dari 20 meter tampak dengan jelas olehku penjual helm.”Berhenti” tiba-tiba terdengar ucapan seorang berpakaian seragam diatas motornya memotong jalan motorku, aku benar-2 kaget dibuatnya, secepat copet tanah abang dia cabut kunci motorku, spontan aku bertanya ”ada apa pak ?”. “Anda melanggar” jawabnya. “Anda tidak pakai helm”. Belum sempat ku bantah dia langsung meminta sim & stnk ku dan mengajakku ke POS polisi saksi bisu yang akan banyak bercerita kisah-kisah pungli di hari akhir kelak.

Wah.....pucuk cinta wulan pun tiba, Allah memang sesuai dengan prasangka hambaNya, Allah tahu benar kegemaranku ngerjain Polisi yang sebagian besar berusaha menghianati negaranya.

Dengan wajah inocent yang kubuat-buat, kuikuti perintahnya, aku berjalalan dibelakangnya sampai akhirnya aku duduk tepat didepan wajahnya yang siap mengintrogasiku.

”Tahu kesalahan saudara ?” tanyanya. ”Tidak pak ”jawabku. ”Loo anda itu naik motor tidak pakai helm”, katanya. Kujawab dg santai ”Pak...mohon maaf, helm saya baru saja dicuri orang, saya tahu fungsinya helm, kalaupun saya pakai helm bukan karna peraturan atau karna takut pada bapak, bapak lihat tidak, saya tadi berjalan disebelah mana?”. ”sudah gak usah banyak bicara yang jelas anda melanggar” sanggahnya. Maaf pak saya tidak merasa bersalah karena saya tadi jalan dipinggir jalan & bukannya tadi bapak lihat didepan saya ada pedagang helm dan saya akan membeli helm disana. ”Sudahlah anda saya tilang atau anda bayar 20 ribu” katanya. Hemm....”kena kau”, hatiku bergumam, ”Maaf ya pak....dari pada buat bapak mending buat beli helm” jawabku mengejek. Semakin menikmati episode ini, kutambah lagi ”asal tau aja ya pak, selama ini saya sebagai masyarakat tidak pernah merasa terayomi oleh polisi seperti bapak”. Dengan malu dan kesal ia jawab ”dasar mahasiswa debat melulu”. Ha-3.....berbungan-bunga juga hatiku dibilang mahasiswa, tapi maaf saja, pujian itu tidak akan membuat aku terpedaya. ”Ya sudah ditilang saja” katanya lagi menambahkan, ”silangkan Pak ditilang saja paling tidak saya tau bapak polisi macam apa” jawabku dengan mantabnya. Berselang beberapa menit kemudian kubawa surat tilang kerumah dengan senangnya, smoga Allah memberi hikmah kepadaku & polisi itu atas episode yang Allah tetapkan hari itu.

Semoga Allah memberi hidayah kepadnya agar tidak lagi mendzolimi rakyatnya & tidak menghianati bangsanya. Semoga Allah juga memberi hidayah kepadaku agar tidak terus punya keinginan kerjain polisi....... Amin ya Robbana......

Jumat, 25 April 2008

Polisi : “Ditilang Dek ?”

Walau sudah 12 tahun yang lalu, ingin rasanya kutulis kejadian itu. Tepatnya dijalan Sudirman dekat lampu merah aku salah jalan, ternyata motor dilarang lewat jalur itu, priiiiitttttt seketika aku terkejut karena priwitan polisi yang nyaris tertelan itu ditujukan padaku. ”Selamat siang mas”, seraya hormat dan mencabut kunci motorku.

Dengan santai sesuai pintanya kudorong motorku merapat keposko tawar menawar di sudut jalan itu. Ironisnya yang selalu terpikir olehku adalah saat-saat sepert itu memang sesuatu yang sangat mengasikkan bagiku, maklumlah sudah cerita kuno kalau pak polisi akan ngajak damai, tawar menawar, sepakat lalu tancap gas........

”Anda melanggar mas, motor tidak boleh lewat jalur ini” katanya, aku sudah siap beraksi, ”Oo.. bgitu ya pak, jadi harusnya lewat mana ya pak” jawabku dengan sopan. Lalu dengan berlaga ramahnya sang ”pelayan masyarakat itu” mengatakan ”lain kali anda lewat jalur ini, lalu jalur itu”. ”Oo begitu ya pak, terima kasih pak lain kali saya akan lewat situ” jawabku dengan mimik muka innocent.

Sambil liat-liat kesekitar bundaran dengan patung yang mesti akan dibongkar Nabi Ibrahim bila ada pada zamannya, aku menunggu dan yakin polisi itu akan memulai aksinya. Tiba-tiba ” Ditilang dek?” tanyanya polos, ”Iya pak silahkan” jawabku santai. Lalu polisi itu menjauh sekitar 8 meter selama 5 menit entah apa yang dilakukannya. Berikutnya , ”Ditilang saja dek ?” dia coba bertanya lagi, ” Oo..iya pak silahkan” , jawabku menggoda.

Ia mulai menghianati negera ini. Rupanya polisi yang tak kuingat pangkatnya itu kurang mendapat pelajaran teknik ”punglingisasi” yang baik, pertanyaan yang sama dan menjauh lagi dengan jarak & waktu yang nyaris sama. Aku yakin sesaat lagi aku berhasil ngerjain tikus kecil kota yang kotor tapi berlaga bersih ini, semakin kunikmati setiap episodenya. Dasar gak kreatif, dia kembali kepadaku ”Jadi bener ditilang nih dek ?” tanyanya lagi tidak sopan, dia pikir aku manusia dungu yang tidak mengerti bahasa manusi atau memang tampangku yang keliatan dungu, bisa jadi. Agar tidak keliatan dungu spontan kujawab ”Memang bisa gak ditilang ya pak?” jadi dungu beneran. Tak kalah spontan dia menjawab ”Ya gak bisa...., harus ditilang”. Dia sedang menunjukkan kedunguan sejatinya. Bagai bola pimpong yang dimainkan team Jepang, langsung pula kujawab. ” Ya sudah to pak ditilang saja, kenapa pake tanya” dengan sedikit menunjukkan kewibawaan & kepuasan atas kemenangan satu episode yang aku yakin sudah tertulis di Lauhmahfuz ini.

Dengan mimik muka kejengkelan diserahkan juga surat tilang itu kepadaku dan lagi-lagi kuterima dengan baik dan penuh senyuman serta isyarat paras muka yang mewakili isi hatiku ”Jangan anggap semua orang sama dengan mu pak”. Dan tepat waktunya aku bersidang di pengadilan Jakarta Selatan untuk mengambil SIM-ku. Semoga Allah memberi hidayah kepadanya dan mengampuni segala kesalahannya. Amin......

Jumat, 18 April 2008

HP jadul sang pejabat tinggi

Tepatnya bulan ramadhon tahun lalu, kejadian itu sangat berkesan dalam hidupku. Memasuki 10 hari terakhir ramadhon seperti biasanya aku melakukan i’tikaf, kala itu ba’da ashar saat ku coba menghatamkan Al-Qur’an hp-ku berdering, kulihat jelas dalam layar initial HNW, Subahanllah, aku tersentak, apa gerangan yang membuat seorang ketua MPR menghubungiku seraya kuangkat. ”Assalamu’alaikum wr.wb, afwan akhi, antum sedang i’tikaf ?”, suara yang kudengar dari dari HP-ku, dengan penuh hormat kujawab ”iya ustad insya Allah”, ”Mengganggu gak kalau antum keluar sebentar untuk menemani saya ketemu Wapres (Wakil Presiden RI) malam ini skitar jam 20.30” lanjut orang yg bersahaja dan banyak disegani orang itu. Dengan bersegera kujawab insya Allah ustad, karena aku tahu betul bahwa bertemu dengan Wapres saat itu juga bagian dari perjuangan dakwah yang tidak kalah pentingnya dengan i’tikaf.

Kusiapkan betul apapun untuk pertemuan malam itu agar tidak mengecewakan orang yang aku hormati, sengaja aku berangkat ba’da magrib dan sholat isya dijalan agar tidak terlambat datang kerumah beliau, karena kami akan berngkat bersama satu mobil dari rumah beliau.

Saat itu tepat jam 20.00 kami sudah masuk ke rumah Wapres, karena sudah ada janji dan yang datang juga setingkat pejabat tinggi negeri ini kecuali diriku, para ajudan dan pelayan disana sudah bersiaga menyambut kedatangan kami. Apalagi secara struktur kepemimpinan dinegeri ini Wapres harus melaporkan pertanggungjawabannya kepada beliau. Kesan sederhana & bersahajapun terasa dirumah dinas Wapres itu, entah ada hal yang kurasakan berbeda, kucoba menerawang setiap sudut ruang, oo..akhirnya kutemukan satu hal yang bisa jadi membuat suasana berbeda, ketika kulihat dalam subuah bingkai foto yang juga biasa-biasa saja foto sang ibu Wapres yang mengenakan jilbab cukup tertutup & rapi. Ah...mungkin karena aku terbiasa ada didalam komunitas sperti itu pikirku. Tapi apapun senang rasanya punya Wapres yang memiliki istri sholehah.

Kami diterima oleh Wapres sangat hangat saat itu. Tidak tersasa obrolan kami bertiga sudah lebih dari 1,5 jam, maklumlah kalau pejabat tinggi bertemu mesti ada saja yang mereka bicarakan dari persoalan rakyat, pembangunan daerah tertinggal dan lainnya. Yang tidak kalah serunya adalah pembahasan klasik umat islam mengenai penetatapan jatuhnya tanggal 1 syawal, repot juga ya ternyata jadi pejabat, pantas kalau Allah tidak membebaniku dengan jabatan itu karena mesti aku tidak akan sanggup memikulnya.

Menjelang pamit, kami sempat menyampaikan bahwa kami sedang membangun kembali masjid yang sebelumnnya terkena gempa di sekitar Klaten, Jawa Tengah, beliau menawarkan Wapres untuk beramal jariyah melalui masjid tersebut, tanpa pikir panjang sang Wapres menyambutnya dan langsung meminta nomor rekening yayasan pengurus masjid tersebut. Perlahan beliau mengeluarkan HP kecilnya ”Afwan akh tolong antum catatkan ya, nomornya ada di sini” sambil menyerahkannya kepadaku untuk mencatatkan no rekening yang ada dalam HP tersebut. Dengan full respon kuambil dan segera mencatatnya, namun Masya Allah aku terkejut memegang HP seorang pejabat tinggi yang sedang bertemu Wapres itu, kalau saja bentuk HP itu aku tidak familier mesti aku tidak akan tau apa mereknya, warnanya yang pudar, grepes-grepes dan yang tidak kalah membuat aku bingung adalah ketika ingin kutelusuri catatan no rekengng tersebut aku kesulitan menggunakannya karna angka & tanda pada tombolnya sudah tidak terlihat. Hasrat hati ingin bertanya bagaimana membukanya karna kuyakin beliau sudah hafal tombolnya walau tidak terlihat karena mungkin sudah menggunakannya bertahun-tahun. Karena malu pada diriku sendiri, apalagi kalu ingat HP-ku yang sok borju, lalu kuniatkan untuk trial & erorr tombol-tombol tersebut & alhamdulillah akhirnya aku mampu menaklukkannya, kudapat no rekening itu dan kucatat. Sebelum kukembalikan sempat kuperhatikan & kupikirkan kembali HP kecil seorang pejabat tinggi itu. Subbhanallah ketika keimanan tertancap didada maka harta dan kemewahan dunia tidak akan mampu menguasainya. Sebenarnya banyak pengalaman ku dan teman-2 yang sangat berkesan dengan beliau, tapi pengalaman kali ini sangat berkesan buatku dan mampu mere-charge motivasiku yang hampir turun saat bejuang bertahan istiqomah dalam i’tikafku di tahun ini.

Semoga Allah selalu menjaga dan tidak membiarkan beliau mengurus rakyat & negeri ini sendiri, karna hanya dibawah pengurusan Allah SWT sajalah beliau akan mampu dan selamat dalam mengurus segala urusan dinegeri ini.

Jumat, 07 September 2007

Dengan syariah, ternyata Allah buat semua jadi mudah...

Seringkah kita mendengar

“Bank konvensional itu masih halal, karena kondisinya darurat”
“Masa pake bank syariah malah lebih mahal, kitakan bisnis tentu cari yang murah dong”
“Sama aja bank konvensional atau bank syariah cuma beda di akad, itumah akal-akalan bank aja biar laku”..padahal yang bedain kita berhubungan dengan istri yang halal atau dengan PSK di AKAD-nya ya….he..he..he…..


Banyak sekali pertimbangan kita untuk tidak pake bank syariah, yang ternyata ujung-ujungnya biasanya gak mau susah atau berkorban buat kemajuan islam dalam pemberlakuan syariah………

Setelah sekian waktu berbisnis alhamdulillah selama ada yang system syariah kami coba untuk menggunakannya walaupun, lama, mahal atau syaratnya banyak, kalo gak gitu sapa lagi ya yang mau membantu berkembangnya perbankkan atau ekonomi syariah kalo bukan kita-kita…..bukan bermaksud ngajarin ya……

Dan dasyatnya subhanallah banget…….., pernah kita punya pengalaman cari dana sampe dengan 4 Milyar untuk satu proyek yang nilainya skitar 28 Milyar, kita berusaha keras untuk cari investor baik bank syariah maupun perorangan berbulan-bulan, tau gak friends ternyata Allah berikan jalan keluar yang lain yang sama sekali tidak terduga & gak kepikir sama sekali sebelumnya, si owner (pemilik proyek) dapat pembiayaan dari bank pemerintah dan syaratnya dana dari bank tersebut harus dicairkan melalui kita sebagai kontraktor, alhasil yang tadinya kita cari dana tambahan buat cash flow proyek….eh proyek itu bisa jalan cukup dengan dana yang lewat kita. Terbukti ya ktika kita coba bertawakal pada Allah maka Allah akan berikan dari tempat yang tidak diduga-duga….Allahu akbar.

Alhamdulillah sudah beberapa akad dengan pola syariah kita lakukan dalam beberapa kerjasama pembiayaan baik lewat bank syariah maupun investor perorangan, kalo para sahabat ingin memanfaatkannya bisa down load skema kerjasama & draft kontrak dengan investor perorangannya lewat http://www.pilar-corporation.com/

Tapi masih banyak kekurangnya baik isi maupun aplikasi….yah paling tidak kita ikhtiar terus untuk menggunakan pola syariah, jadi kasih inputan ya….biar menjadi lebih baik. Semoga bermanfaat...